1/06/2012

MS Hidayat tak Bijak Soal Esemka

Menteri Perindustrian M.S.Hidayat/tempo.co
Pamor Sekolah Menengah Kejuruan naik daun beberapa hari terakhir. Pemicunya siapa lagi kalau bukan siswa SMK Negeri 2 Surakarta dan SMK Warga Surakarta dengan buah tangannya. Anak muda itu memproduksi mobil jenis SUV yang diberi juluk Esemka Rajawali.

Hal membanggakan, tidak jauh berbeda dengan produsen mobil yang menjajah pasar otomotif Indonesia selama ini, Esemka lahir dengan 80 persen komponen dalam negeri.

Tidak seperti mobil Kancil yang juga diproduksi putra bangsa, Esemka "kendaraan sungguhan". Esemka dibesut dengan mesin 1.500cc multi point injection 4 silinder yang mampu menghasilkan tenaga 105 Hp pada putaran 5.500 RPM dengan torsi puncak hingga 145 Nm di 4.100 RPM.

Esemka menampung tujuh orang. Panjangnya 5.035 mm, lebar 1.690 mm, dan tinggi 1.630 mm. Mobil bergaya sport ini dibekali sederet fitur elektronik mirip SUV premium lainnya, misalnya power steering, central lock, power windows, AC dual zone, sensor parking, hingga head unit CD player.

Tak aneh bila kemunculan Esemka menjadi buah bibir. Komentar para pembesar sahut menyahut di ruang media massa.

Tak hendak menyinggung komentar "manis" para politisi --termasuk pejabat yang orientasi partainya sulit dikikis, hal sulit diterima yakni adanya pernyataan "pahit" seorang menteri seputar Esemka.

Mari kita simak komentar Menteri Perindustrian M.S. Hidayat. Dia jelas-jelas pembantu presiden yang terkait langsung dengan hasil karya anak-anak SMK Surakarta.

Rabu lalu, saat ditemui wartawan di kantornya, Hidayat mengaku mengapresiasi karya purta-putra SMK yang memproduksi Esemka Rajawali. "Saya mengapresiasi tinggi, jadi tanpa harus menggunakan, memakai nomor kayak Pak Jokowi, saya semangatnya sama dengan Pak Jokowi tapi saya tidak menggunakan itu," katanya.

Bagi pejabat publik, terlebih Menteri Perindustrian lagi, mengumbar rencananya untuk tidak menggunakan Esemka Rajawali sungguh "tidak bijak". Bahkan mendekati "pandir". Ungkapan tersebut juga menunjukkan bahwa Menteri Perindustrian sesungguhnya tidak mengapresiasi kemampuan siswa SMKN 2 dan SMK Warga Surakarta. Pernyataan Hidayat bahwa dirinya mendukung kinerja para siswa hanya semata basa-basi khas pejabat.

Sekiranya Menteri Perindustrian hendak menggarisbawahi pentingnya uji kelayakan secara ketat terhadap kendaraan sebelum dilempar ke publik, Hidayat tak perlu mengumbar tekadnya untuk tidak sama dengan Walikota Solo Jokowi yang segera menjadikan Esemka sebagai mobil dinas. Omongan Hidayat ke publik bahwa dirinya tidak akan menggunakan Esemka mencederai "nasionalisme" anak-anak SMK tersebut.

Atau, jangan-jangan pernyataan itu pesanan mafia impor otomotif yang selama ini mengeruk keuntungan bergunung-gunung dari pasar dalam negeri? Dan karena mafia impor berjaya puluhan tahun maka kita masih saja gagal melahirkan mobil nasional hingga kini.

Kepada Menteri Hidayat, dan pembantu presiden lain serta segenap perjabat negara mohon hati-hati saat bicara kepada publik. Pikir cermat pernyataan yang hendak dikeluarkan. Tanpa harus mengeluarkan omongan yang klise dan terlebih membohongi rakyat, pernyataan pejabat jangan sampai menimbulkan efek psikologis negatif. Pernyataan sang pejabat boleh jadi benar dan apa adanya, namun sebaiknya menunjukkan kebijakan seorang negarawan.

Sekali lagi, pernyataan seperti di atas, sungguh "pandir" bagi seorang Menteri Perindustrian.

Syukurlah, sehari kemudian, Hidayat mengaku akan mengendarai Esemka sebagai simbol kelayakan Esemka. "Secara teknologi, sudah layak mendapatkan nilai dari perindustrian dan Menteri Perhubungan untuk bisa turun ke jalan. Nanti Menteri Perindustrian akan menyopir mobil itu sebagai simbol ini akan bisa dilakukan," katanya.

Sayang, komunikasi cerdas terakhir dapat dibaca sebagai "ikut-ikutan" setelah dukungan terhadap Esemka terus mengalir. Bahkan Esemka akan meluncur sampai Istana Presiden dan Wakil Presiden.*

No comments:

Post a Comment